Syawal Momentum Peningkatan Menuju Ibadah Besar Selanjutnya

Pahala dan kemulian yang didapat di bulan Ramadhan harus terus dipelihara sampai menjumpai Ramadhan berikutnya. Allah SWT telah memberikan tempat pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya sebagai bulan untuk memelihara amal-amal saleh yang dilakukan di bulan Ramadhan.

Ketika memasuki bulan Syawal, salah satu bulan terbaik setelah bulan Ramadhan, selain memelihara amalan, seorang muslim juga dianjurkan untuk semakin meningkatkan ibadah. Pada hakikatnya umat islam memasuki rangkaian ibadah yang sangat tinggi nilainya yaitu ibadah haji bagi yang mampu serta ibadah bequrban.

Perintah berkurban adalah perintah yang sangat ditekankan baik oleh Allah SWT melalui Al-Quran dan hadits-hadits yang mencerminkan teladan Rasulullah SAW.

“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kautsar: 2)

Ibadah berkuban menjadi ajang untuk mendekatkan diri kepada Allah setelah peringatan untuk melaksanakan shalat. Ibadah sunnah muakkad yang mengandung banyak sekali hikmah dan manfaat, juga sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial untuk membahagiakan sesama yang kurang beruntung.

“…. Maka makanlah sebahagiannya (daging kurban) dan beri makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (QS al-Hajj: 36).

Maka bersegera dalam berqurban saat mampu dan memiliki kelapangan harta, menjadi pilihan baik. Hal yang harus disadari bahwa, ada satu hal yang pasti di tengah ketidakpastian dalam menghadapi masa depan hidup, itulah kematian (al-maut) dan tidak ada satupun di antara kita yang tahu secara pasti apakah usia kita akan cukup hingga kesempatan berkurban kembali datang menghampiri?

Saat seseorang datang kepada Nabi SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah dalam keadaan sehat, suka terhadap harta, takut miskin, dan berkeinginan kaya. Dan janganlah kamu menunda. Karena apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk fulan sekian dan fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah mampukan dan permudah ibadah kurban kita di tahun ini.