Salah Satu Syarat Wajib Zakat : Kepemilikan Harta yang Sempurna

Sahabat kepedulian, harta yang wajib dizakati haruslah harta yang baik dan halal. Hal ini dikarenakan zakat selain berhubungan langsung/ muamalah dengan manusia, muaranya tetap kepada Allah Swt. Yang Maha Mencipta. Apa-apa yang kita ikhtiarkan tentu harus murni semata-mata hanya mengharap ridha-Nya. Oleh sebab itu, menjaga kemurnian harta, mulai dari niat, cara kita mendapatkan, sampai pada menunaikan zakat tentu harus dengan cara yang baik dan halal. Sesuai dengan firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Al-Baqarah : 267).

Selain itu juga dalamh hadist Shahih Bukhari terdapat satu bab yang menguraikan bahwa sedekah atau zakat tidak akan diterima dari harta yang ghulul, dan tidak akan diterima pula kecuali dari hasil usaha yang halal dan bersih. Harta wajib zakat juga haruslah harta yang bernilai dan berpotensi berkembang. Dalam terminologi fiqhiyyah, menurut Yusuf Qardhawi, pengertian berkembang itu terdiri dari dua macam: yaitu yang kongkrit dan tidak kongkrit. 

Yang kongkrit dengan cara dikembangkan, baik dengan investasi, diusahakan dan diperdagangkan. Yang tidak kongkrit, yaitu harta itu berpotensi berkembang, baik yang berada di tangannya maupun yang berada di tangan orang lain tetapi atas namanya.  Adapun harta yang tidak berkembang seperti rumah yang ditempati, kendaraan yang digunakan, pakaian yang dikenakan, alat-alat rumah tangga, itu semua merupakan harta yang tidak wajib dizakati kecuali menurut para ulama semua itu berlebihan dan di luar kebiasaan, maka dikenakan zakatnya.

Seseorang tidak diwajibkan berzakat selama ia belum mampu memenuhi kewajiban pokoknya. Menurut para ulama yang dimaksud dengan kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan menyebabkan kerusakan dan kemelaratan dalam hidup. Para ulama telah memasukkan syarat ini sebagai syarat kekayaan wajib zakat karena biasanya orang yang mempunyai kelebihan kebutuhan pokoknya maka orang tersebut dianggap mampu dan kaya. Kebutuhan pokok yang dimaksud itu meliputi makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Zakat juga mensyaratkan seseorang harus terbebas dari hutang. Syarat ini merupakan penguat syarat kekayaan wajib zakat yang harus merupakan kepemilikan penuh. Karena dengan adanya hutang, berarti harta yang kita miliki masih bercampur harta milik orang lain, maka apabila kita ingin mengeluarkan zakat sedangkan kita masih mempunyai hutang, harus kita lunasi terlebih dahulu hutang-hutang yang kita miliki. Apabila setelah dibayarkan hutang-hutangnya tapi kekayaannya masih mencapai nishab, maka wajib untuk mengeluarkan zakat, tapi sebaliknya apabila tidak mencapai nishab setelah dilunasi hutang-hutang maka tidak wajib mengeluarkan zakat.

Nah, sahabat, oleh sebab itu penting untuk kita ketahui bahwa harta yang kita keluarkan/ dizakati juga memiliki kriteria yang harus kita penuhi. Salah satunya adalah harta harus kita miliki secara penuh, bukan merupakan harta pinjaman, hutang. Selain itu juga harus kita dapatkan dengan cara yang baik dan halal. Catat sama-sama ya, sahabat, sebelum kita benar-benar menunaikan zakat agar insyaAllah diterima sebagai ibadah kita kepada Allah Swt.

Sumber : LAZiS Jateng, Suara.com, BAZNAS