MEMIKUL ASA DALAM SEBUNGKUS SIOMAY

Pak Juwarto, pria renta yang kini berusia 60an tahun ini hidup merantau seorang diri di Kota Semarang, tepatnya di Desa Sekaran, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah (sekitar kampus UNNES). Beliau terpaksa meninggalkan keempat anaknya di Banjarnegara untuk mencari penghidupan di tanah rantau.

“Saya asli Lampung. Menikah dengan orang Banjarnegara sejak 20 tahun lalu. Sudah 4 tahun berjualan siomay di Semarang sejak istri saya meninggal. Yatim anak-anak saya sekarang, Mas. Yaa saya tinggal di kos seadanya ini, ikt dengan bos,” ujarnya.

Setiap hari sedari siang sampai menjelang petang, Pak Juwarto berkeliling kawasan kampus UNNES untuk menjajakan siomaynya. Siomay yang beliau jual dihargai dengan harga Rp500,. per buahnya. Tak banyak hasil yang beliau dapatkan, sebab juga harus bagi hasil dengan pemilik modal.

“Ngga tentu, kadang sehari cuma dapat Rp30.000,. Apalagi korona seperti ini, Mas sangat menurun. Ya, Berapapun dari Allah saya terima, sedikit banyak tetap saya bersyukur. Tapi ya kalau untuk keluarga, maaf saja, agak kurang, Mas,”

Sahabat, Di usianya yang semakin menua dan masih menjadi tulang punggung keluarga. Tak banyak yang menjadi harapan Pak Juwarto. Beliau hanya berharap di masa tuanya ini bisa melihat anak-anaknya sukses. Sahabat, rasa syukur, ikhtiar dan tekad beliau untuk membahagiakan orang terdekat patut kita contoh.

Mari, sahabat. Bersama kita bahagiakan figur seperti beliau dan mereka para pejuang nafkah lain yang sudah menginjak usia senja. Salurkan donasi terbaikmu melalui :

BSI 7077755661
a.n Lazis Jateng Pusat
Mandiri 1360013144040
a.n Yayasan Al Ihsan Jawa Tengah

#lazisjateng #jateng
#lebihpeduliuntukberbagi