Kurban Sekali Seumur Hidup atau Setiap Tahun?

heads of black and white holstein cows feeding on grass in stable in holland

Sahabat kepedulian, terdapat banyak ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan kaum Muslim di bulan Dzul Hijjah, di antaranya adalah haji dan umrah bagi yang mampu, dan berkurban juga bagi yang mampu.

Ibadah haji diperintahkan hanya sekali dalam seumur hidup. Jika seseorang pernah menunaikan ibadah haji di Baitullah, maka dia tidak dituntut untuk melakukan haji kembali meskipun mampu untuk melakukannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Nasai dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, dia berkata;

“Rasulullah Saw. pernah berkhutbah di hadapan kami dan berkata; ‘Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji pada kalian.’ Lantas Alaqra’ bin Habis berdiri dan bertanya; ‘Apakah haji tersebut wajib setiap tahun, wahai Rasulullah Saw.? Rasulullah Saw. menjawab; ‘Seandainya saya mengatakan demikian, maka hal tersebut menjadi wajib (haji setiap tahun). Namun haji hanya wajib sekali. Siapa yang lebih dari sekali, maka itu hanyalah haji yang sunnah.”

Lantas bagaimana dengan ibadah kurban, apakah hanya cukup sekali seumur hidup atau setiap setiap tahun?

Sahabat, perlu kita ketahui, dalam ibadah kurban atau menyembelih hewan kurban terdapat aturan yang harus ditaati sehingga pelaksanaannya dapat disebut sebagai ibadah kurban idul adha. Sebab, jika tidak mengikuti aturan tersebut maka tidak akan dihitung sebagai ibadah kurban. Aturan kurban Idul Adha yang pertama berkaitan dengan waktu pelaksanaannya. Penyembelihan hewan kurban juga dilaksanakan pada waktu tertentu, yakni dimulai pada 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik usai.

Hari tasyrik merupakan tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu 11, 12, dan 13 Hijriyah. Pada tanggal-tanggal tersebut, umat Islam dilarang berpuasa dan justru dianjurkan untuk menikmati hewan kurban. Hukum menyembelih hewan adalah sunnah muakkad bagi mazhab Syafi’i dan Maliki. Sunnah muakkad artinya sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Sementara bagi mazhab Hanafi dan Hambali, hukum ibadah kurban idhul adha adalah wajib bagi yang mampu dan bermukim atau menetap di suatu tempat dalam kurun beberapa waktu. 

Untuk ibadah kurban, maka dianjurkan bagi setiap Muslim yang mampu dan memiliki kelapangan harta untuk berkurban setiap tahun. Bahkan menurut Imam Abu Hanifah, wajib berkurban setiap tahun bagi setiap Muslim yang memiliki kelapangan harta untuk berkurban.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Mikhnaf bin Sulaim Alghamidi;

كُنَّا وُقُوفًا مَعَ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَاتٍ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ! عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِى كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِيرَةٌ. هَلْ تَدْرِى مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِىَ الَّتِى تُسَمَّى الرَّجَبِيَّةُ.

“Kami melakukan wukuf di ‘Arafah bersama Nabi Saw. Kemudian saya mendengar beliau berkata;‘Wahai manusia! Setiap satu keluarga di setiap tahun harus menyembelih hewan kurban dan juga ‘athirah. Apakah kamu tahu apa itu ‘athirah? Ia adalah yang dinamakan arrajabiyah (hewan yang disembelih di awal bulan Rajab).”

Hadis ini menganjurkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban dan athirah dalam setiap tahun. Namun anjuran menyembelih hewan athirah pada akhirnya dihapus dalam Islam sehingga yang tersisa hanya anjuran menyembelih hewan kurban setiap tahun, sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Daud.

Sumber : nu.or.id & muhammadiyah.or.id