KISAH SUPRIYANTO, TUNA NETRA TULANG PUNGGUNG KELUARGA

“Saya sudah terlahir dengan kondisi seperti ini mba (tuna netra/ buta). Apapun yang gusti Allah berikan kepada saya, InsyaAllah saya terima, saya syukuri, mba,” terang Pak Supriyanto, saat ditemui di kediamannya.

Sahabat, Pak Supriyanto, pria 41 tahun ini tinggal bersama istri dan seorang anaknya di sebuah kontrakan berukuran sedang yang terletak di kawasan Kebunharjo, Semarang Utara, Semarang, Jawa Tengah.

Ya, sahabat. Beliau mengalami keterbatasan pada penglihatannya (tuna netra) sejak terlahir ke dunia ini. Kondisi demikian tak lantas membuat beliau putus asa, terlebih saat ini beliau juga harus menghidupi anak dan istrinya.

“Sebelum pandemi seperti ini, dulu saya bekerja sebagai tukang pijat keliling mba. Tapi semenjak pandemi, dampaknya sangat terasa. Saya jadi tidak bisa memijat karena kondisi yang tidak membolehkan. Terpaksa saya harus putar otak dan mencari penghidupan lain, mba,” imbuhnya.

Kini beliau memutuskan untuk merintis usaha dengan berjualan kerupuk keliling bersama dua rekannya. Beliau berkeliling dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki, sedari pagi sampai menjelang petang.

“Satu plastiknya (kerupuk) kami hargai Rp.10.000. Setiap hari ada sekitar 30 bungkus yang kami jual. Kalau laku semua bisa dapat Rp. 300.000, mba. Itupun harus dibagi tiga dengan rekan saya. Kalau lagi laku, bersih saya bisa dapat Rp. 100.000, mba,” ungkap Pak Supriyanto.

Sahabat, keterbatasan pada penglihatan Pak Supriyanto tak urung membuat mata hati beliau juga mengalami kebutaan. Kerja keras, sara syukur dan perilaku beliau begitu baik kepada orang lain terlebih pada keluarganya. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang telah memberikan sembako kepedulian untuk keluarganya.

Yuk, sahabat. Bersama kita ambil bagian dengan terus membahagiakan mereka yang membutuhkan. Berikan bantuan terbaikmu melalui :

BSI 7077755661
a.n Lazis Jateng Pusat
Mandiri 1360013144040
a.n Yayasan Al Ihsan Jawa Tengah

#lazisjateng #jateng
#lebihpeduliuntukberbagi