KISAH KELUARGA TUNA NETRA PENJUAL KERUPUK

Sahabat, kenalin nama beliau Pak Ivan (30) dan sang istri, Ibu Sulis (33). Sepasang suami istri ini merupakan pasangan tuna netra/ menderita gangguan penglihatan bahkan kebutaan sedari lahir. Sudah dua tahun ini keduanya berjualan kerupuk di sekitar kawasan Sampangan (dekat gedung UTC).

Pak Ivan sendiri tinggal bersama istri dan anaknya di sebuah rumah di daerah Stasiun Tawang. Sebelumnya, ia membuka jasa panti pijat, namun semenjak pandemi Covid-19 jasa pemijatannya sepi pelanggan sehingga ia beralih ke profesinya yang sekarang. Untuk sampai ke tempat jualannya, ia harus menggunakan jasa ojek sampai sekitar Tugu Muda, kemudian berjalan sampai kawasan Sampangan (sekitar 30-45 menit perjalanan).

“Biasanya dari pagi sampai malam mas, yaa sehabisnya saja. Kalau sudah habis saya pulang pakai ojek langganan. Alhamdulillah mas, saya tetap bersyukur, meskipun pendapatan sehari-hari sangat menurun karena pandemi seperti ini, tapi ya mau bagaimana lagi mas, tetap kami syukuri,” imbuh beliau dengan raut wajah yang meneduhkan.

Kerupuk dagangan beliau dihargai bermacam-macam, ada yang 10 ribu untuk jenis kerupuk tenggiri, dan 6 ribu untuk kerupuk biasa. Menurutnya, ia tidak membuat sendiri kerupuknya, melainkan mengambil dari pihak lain dengan sistem bagi hasil. Sehari biasanya laku 5-10 bungkus kerupuk, berbeda dengan awal-awal ketika mereka berjualan yang bisa habis terjual.

Sahabat, potret keluarga Pak Ivan memberikan gambaran bagi kita, bahwa bagaimanapun kondisi kita, tetap bersyukur, bersabar dan berikhtiar sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia. Kalau sahabat melintas di sekitar kawasan Sampangan dan bertemu beliau, jangan lupa mampir dan beli kerupuknya yaa.