KISAH HARU MBAH KAMSINI, LANSIA YANG JADI PENGAMEN & HIDUP SEBATANG KARA

Teriknya Kota Semarang tak lantas menjadikan kaki yang nampak kepayahan itu membuatnya patah semangat. Berbekal tongkat kayu seadanya, ia terus bekerja keras. Boleh jadi, rasa syukur yang menjadikan semangat beliau tetap bertahan.

Mbah Kamsini, nenek berusia 65 tahun ini tinggal dan hidup sebatang kara dalam rumah bertembok papan berukuran 2×4 m di Semarang Utara, Semarang, Jawa Tengah. Keterbatasan fisik yang beliau derita sedari kecil membuatnya enggan untuk berkeluarga.

Jika kebanyakan masa senja orang-orang pada umumnya diisi dengan bersantai, menikmatinya, lain halnya dengan Mbah Kamsini. Beliau harus menjadi pengamen guna mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

“Biasanya saya berkeliling di sekitar Semarang Utara, mba. Hasilnya tidak menentu, seringnya cuma dapat sedikit. Bahkan cuma cukup untuk pulang naik becak uang yang saya dapatkan, mba,” terang beliau kepada kami.

Sahabat, keterbatasan kondisi fisik yang beliau alami cukup menyulitkan aktivitas beliau. Kedua kaki yang tidak begitu sempurna, menjadikan beliau harus menggunakan alat bantu berupa tongkat kayu. Ditambah pendengaran beliau yang kurang berfungsi dengan baik, beliau sudah mulai tuli.

Potret Mbah Kamsini memberikan gambaran bagi kita untuk selalu mengucap syukur dengan segala kondisi yang diberikan. Selain berterima kasih kepada sahabat atas bantuan pangan yang diberikan, beliau juga sempat berpesan bahwa keterbatasan bukan sebuah alasan untuk melakukan sebuah hal.

Yuk, sahabat, terus bagikan kebahagian kepada saudara kita yang membutuhkan. Berikan bantuan terbaikmu melalui :

BSI 077755661
a.n Laziz Jateng Pusat
Mandiri 1360013144040
a.n Yayasan Al Ihsan Jawa Tengah

#lazizjateng #jateng
#lebihpeduliuntukberbagi