Hukum Qurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

 Hukum Qurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Ibadah qurban pada dasarnya ditujukan kepada orang yang masih hidup, sudah balig, berakal, dan memiliki kelapangan harta. Setiap tahunnya, ibadah yang hukumnya sunah muakadah ini disyariatkan untuk dilakukan sejak selepas salat Id (10 Zulhijah), kemudian dilanjutkan pada tiga hari tasyrik (11-13 Zulhijah). Lantas, bagaimana dengan qurban untuk orang yang sudah meninggal? Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan berqurban untuk orang yang telah meninggal ketika mayit (orang mati) sebelumnya tidak berwasiat pada keluarga ketika masih hidup.

Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada ketentuan qurban bagi orang yang sudah meninggal, kecuali apabila ia berwasiat ingin berqurban. Jadi, qurban untuk orang yang sudah meninggal diperbolehkan, hanya jika shohibul qurban yang sudah tidak hidup itu pernah mewasiatkan. Secara logis, orang yang sudah meninggal memang tidak bisa berqurban, maka lazimnya qurban ini dilakukan oleh keluarganya.

Pendapat kedua, datang dari para ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali yang menyatakan bahwa berqurban untuk orang yang sudah meninggal sah hukumnya karena dimaksudkan sebagai sedekah. Jika qurban untuk orang yang sudah mati dianggap sedekah, maka bersedekah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya sah dan pahalanya bisa sampai kepada yang diqurbani.

Pendapat ini merujuk pada riwayat mengenai qurban yang dilaksanaka Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu: “Bahwasanya Ali Radhiallahu Anhu pernah berqurban atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menyembelih dua ekor kaming kibasy. Dan beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallammenyuruhnya melakukan demikan,” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).

Sumber : Nu.onine , muhammadiyah.or.id, LAZiS Jateng, Tirto.id

Copyright © 2022 News Lazis Jateng