Hukum Arisan Qurban

 Hukum Arisan Qurban

Arisan Qurban diperkenankan jika :

(a). Nominal uang yang diterima dan dibayarkan sama.

(b). Hewan qurban yang diterima senilai dengan uang yang dibayarkan.

(c). Ada kemampuan bayar dan tidak meninggalkan kebutuhan yang lebih prioritas.

Arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang, kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan yang memperolehnya dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Misalnya, untuk bisa berqurban dibuatlah arisan tediri dari lima orang, masing-masing akan membayar total lima juta dengan kompensasi seekor kambing. Secara bergiliran, masing-masing akan mendapatkan seekor kambing. 

Pada prinsipnya, arisan adalah utang piutang sebagai ta’awun antar anggota arisan. Maotivasi saling membantu sesama peserta tersebut dianjurkan dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT (Q.S Al-Maidah 5 : 2)

Agar arisan yang bersifat ta’awun itu diperkenankan, ada batasan yang harus dipenuhi. Pertama, total nominal uang yang diserahkan oleh setiap anggota arisan itu sama nominalnya dengan yang akan diterimanya. 

Kedua, nilai dan harga hewan qurban itu sesuai dengan uang yang diterima dan dibayarkan. Nilai/ harga hewan qurban serta uang yang diterima dibayarkan oleh peserta arisan Qurban itu harus terkonfirmasi dan diketahui sejak awal arisan agar terhindar dari gharar (ketidakjelasan).

Di samping itu, ketidakjelasan ini membuka suuzan, tidak Ridha yang menghilangkan atau mengurangi keberkahan. Misalnya, nominal uang yang sudah atau akan dibayarkan itu Rp 4 juta. Maka, hewan qurban itu harus senilai dengan uang tersebut. 

Ketiga, setiap anggota arisan qurban punya iktikad dan kemampuan untuk melunasi kewajibannya, sebagaimana adab-adab berutang dalam hadits Rasulullah Saw : barangsiapa yang meminjam harta orang lain dengan niat ingin ditunaikan, niscaya Allah akan menolongnya. Sebaliknya, barangsiapa yang mengambil harta orang lain untuk memusnahkan, Allah akan memusnahkannya” (HR. Bukhari)

Keempat, tidak melalaikan kebutuhan lain yang lebih prioritas, sebagaimana kadiah-kaidah fikih aulawiyat dan muwazanah. Misalnya, salah satu anggota arisan itu mempunyai kewajiban utang yang jatuh tempo. Maka, membayar utang itu lebih didahulukan karena menjadi kewajiban dan hak sesama manusia. Sedangkan berqurban hukumnya Sunnah bagi mereka yang mampu.

Di antara alternatif arisan qurban yang sesuai dengan kriteria di atas ; objek arisan adalah uang, dengan uang tersebut anggota arisan membeli hewan qurban; objek arisan adalah hewan qurban disesuaikan dengan uang yang dibayarkan.

Wallahu’alam

 

Copyright © 2022 News Lazis Jateng