CURAHAN HATI PAIMIN, PETANI SAYUR YANG TERDAMPAK PANDEMI

“Pontang-panting mba, harga anjlok jualnya susah, harga murah, itupun kalo ada yang beli,” terang Paimin (43) yang hampir 20 tahun berprofesi menjadi petani sayur.

Permainan harga, mahalnya harga pupuk pertanian belum lagi serangan hama, seolah menjadi tantangan yang harus Pak Paimin dan ribuan petani di Desa Manggihan hadapi setiap tahunnya. Bantuan pemerintah yang ada pun nyatanya belum mampu mencukupi kebutuhan mereka, tak sekali harus membeli sendiri dengan harga yang tidak murah.

“Bantuan alhamdulillah ada, tapi ya terbatas. Kadang cari hutangan mba, untuk menanam lagi dan beli pupuk. Kalo tidak ada modal tidak bisa nanem, kalo ngga nanem mau kerja apa mba, kan kita petani,”

Ditambah dampak pandemi, pembatasan – pembatasan yang ada membuat pengiriman terhambat, sehingga terjadi penumpukan hasil panen yang akhirnya merusak harga pasar. “Kol pernah sampai 500 rupiah perkilo, itupun kalo ada yang mau, kadang sampai busuk ditempat,” tutur Paimin

Raut bahagia tampak dari pria paruh baya asli Manggihan ini saat kami datang memborong sayur serta memberi bantuan pupuk di Desanya.

Yuk Sahabat kita lanjutkan kebaikan ini untuk terus memberikan senyum garda terdepan pangan Indonesia lainnya.

Salurkan kebaikanmu melalui :

BSI 7077755661
a.n LAZIS JATENG PUSAT
MANDIRI 1360013144040
a.n Yayasan Al Ihsan Jawa Tengah

#lazisjateng #jateng
#lebihpeduliuntukberbagi
#petaniberdaya